Profil

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Modern Darunnajat Periode Tahun 1983-2000

Abah

Dalam proses perkembangannya, sejarah pondok pesantren mengalami berbagai fase perkembangan yang dapat dilihat dari segi bangunan fisiknya dan sistem pembelajarannya. Yang dahulunya hanya ada bangunan rumah abah untuk mengaji para santri. Seiring waktu, lembaga pendidikan pesantren ini telah mampu beradaptasi dan berinovasi dalam berbagai aspek, dari tipe tradisional hingga tipe yang lebih modern dan formal.

Dalam hal manajemen, pesantren juga menunjukkan kemajuan yang signifikan. Meskipun sebelumnya terafiliasi dengan Gontor dan kurikulumnya mengikuti standar Gontor, sekarang pesantren telah mengembangkan program tsanawiyah dan aliyahnya.

Selain itu, penerimaan santri putri juga menjadi indikasi dinamika dan kemajuan dalam pesantren tersebut (Wahab, Komunikasi Pribadi, 2024). 20 Pada awalnya, Pondok Pesantren Modern Darunnajat ini didirikan oleh Abah Aminuddin Masyhudi yang berawal dari keinginan beliau yang dahulu latar belakangnya seorang jurnalis, dan bukan kiai. Basic beliau adalah seorang jurnalis, memiliki bahasa yang bagus dan puitis. Dahulu beliau alumni pondok di Gontor, pondoknya di Tambak Beras Jawa Timur. Kemudian ke Mesir tahun 1970-an sampai tahun 1982. Di Mesir, beliau suka melancong atau jalan-jalan. Sampai teman-temannya itu menjuluki abah kiai dengan sebutan Amin turis. Karena, abah suka jalanjalan dan kalau liburan itu tidak pulang ke Indonesia, terkadang ke Belanda. Setelah kuliah di Darul Ulum, di Kairo pada tahun 1980-an, Abah mengajukan lowongan pekerjaan yang ada di Belanda sebagai wartawan. Kemudian, adanya kabar bahwa abah akan diterima di sana. Tetapi, karena beliau basicnya seorang santri, biasanya jika santri ingin melanjutkan ke luar negeri meminta doa restu ke gurunya di Gontor (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2023). Pada waktu itu meminta doa restu kepada K.H. Imam Zakasyi sekitar tahun 1982-1983. Abah meminta doa restu ingin melanjutkan studi dan merintis karir sebagai jurnalis di Belanda. Padahal itu merupakan kesempatan dan jarang orang yang bisa melakukan. Tetapi, respon dari kiainya tersebut “buat apa kamu jauh-jauh ke Belanda, kamu itu seorang santri, sudah kamu pulang saja ke kampung dan kembangkan apa yang ada di sana”. Akhirnya, cita-cita abah ingin menjadi jurnalis, penyiar radio, langsung pupus hanya karena patuh dan taat sama gurunya. Ini poin 21 utamanya kenapa ada pondok ini adalah taat sama guru. Karena, abah memang basicnya bukan kiai. Tetapi, karena taat pada guru, kenginannya dikubur dalam-dalam dan patuh untuk mengembangkan yang ada dirumah akhirnya jadilah pondok (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2023). Kemudian, abah pulang ke rumah belum ada gedung-gedung, masjid, apalagi asrama-asrama, yang ada itu hanya rumah dan warung abah. Awalnya, ada lembaga pendidikan itu hanya ada MI Khoerul Huda yang sampai sekarang masih berdiri. Abah waktu itu ngajar di MI pada tahun 80-an. Kemudian, karena abah merasa memiliki ilmu yang lebih dari cukup hanya sekedar mengajar di MI.

 Akhirnya, selesai ngajar pagi abah meminta anak-anak untuk belajar lebih langsung datang kerumah. Murid pertama ada 8 orang yang mengaji biasa, belajar bahasa Arab , alif ba ta, dan seterusnya. Kemudian, seiring berjalannya waktu, ternyata belajar mengaji menyenangkan dan melaksanakan sholat berjama’ah. Setelah belajar, sholat berjama’ah, murid disuruh menginap di rumah abah kiai. Angkatan pertama itu mulai dirintis benar-benar pada tahun 1984, untuk pengajaran agak formalnya. Karena, pada waktu itu belum ada MI, MTs. Tetapi, untuk cikal bakalnya itu sudah dari tahun 1983 pengakuan dari umi (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2023). Angkatan pertama itu pada tahun 1984 dan di pondok ini mengadopsi pendidikan yang ada di Gontor selama 6 tahun. Jadi, Angkatan pertama ini lulus pada tahun 1990-an. Tahun 1990 abah itu mempunyai rumah dan di karuniai anak. Masjid juga merupakan wakaf 22 dari mbahnya dan diwakafkan untuk pondok, serta masyarakat Tegalmunding untuk melaksanakan sholat jum’at. Kata kunci di sini itu bagaimana berdirinya pondok pesantren ini karena keikhlasan murid yang patuh sama gurunya. Itu kalau dari sisi nilai sejarahnya. 

Abah dahulunya tidak ada niatan mempunyai pondok, jadi karena cikal bakalnya patuh sama kiai, jadilah pondok sampai sekarang. Pendidikan semi formal itu pondok ini berdiri pada tahun 1984 dan secara de facto itu berdiri pada tahun 1983. Dari tahun 1990- sekarang sudah ada 33 angkatan. Jumlahnya kurang lebih sekitar 1.000 santri. Pondok Pesantren Modern Darunnajat ini sudah mulai berkembang pada tahun 1990-an (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2023). Pondok Pesantren Modern Darunnajat didirikan pada 3 Desember 1983. Didirikannya Pondok Pesantren Modern Darunnajat ini bertujuan untuk menampung yang semakin banyak ingin belajar kepada almarhum K.H. Aminuddin, yang awalnya hanya 8 orang santri pulang pergi. Banyak yang dari jauh dan harus menginap. Ketika abah Aminuddin Mashudi ingin pergi ke Belanda untuk menjadi wartawan yang merupakan cita-cita abah sejak dahulu.

Tetapi, dilarang oleh gurunya yang ada di Gontor. Kemudian abah Amin disuruh membangun pondok dan tidak diperbolehkan berangkat ke Belanda. Akhirnya, abah Amin pertama itu menyiapkan tempat ngaji bagi santri yang mau ngaji. Pada saat itu, hanya 8 orang santri yang mengaji. Mereka hanya mengaji saja, tidak menetap di pondok. Semakin berkembangnya zaman, setiap tahun itu anak-anak yang 23 ingin mengaji semakin bertambah. Kemudian, abah Amin mempunyai tanah yang diwakafkan untuk membangun asrama bagi santri yang menginap, serta adanya bangunan mushola pada saat itu. Akhirnya, gedung asrama itu dinamakan mashudi. Karena merupakan awal berdirinya Pondok Pesantren Modern Darunnajat (Nurofiq, Komunikasi Pribadi, 2023). Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Modern Darunnajat itu awal atau yang mendasari yaitu keprihatinan seorang kiai H. Aminuddin Masyhudi terhadap perkembangan, terutama akhlak, keilmuan, pengetahuan, pendidikan anak-anak setempat. Akhirnya mendorong beliau untuk harus ada pendidikan lembaga sekolah. Karena basicnya beliau pesantren, jadi mendirikanlah Pondok Pesantren Modern Darunnajat. Asal mulanya itu berangkat dari keptihatian beliau terhadap situasi warga masyarakat setempat. Saat itu dinilai dari aspek agamanya, pengetahuannya mungkin kurang. Sehingga dengan pendidikan yang kurang itu diindikasikan ekonominya lemah. 

Awalnya, abah pernah di Gontor, Jombang, kemudian ke Kairo, terakhir ke Belanda. Pulang ke kampung izin sama gurunya untuk berangkat lagi ke Belanda. Tetapi, gurunya berkata “saya lebih seneng memiliki santri mengajar abatasa atau alif ba ta tsa di kampung, meskipun di mushola” (Wahab, Komunikasi Pribadi, 2024). Akhirnya abah Aminuddin tidak berangkat ke Belanda, kemudian mendirikan yang awalnya hanya mengajar di madrasah diniyah, tempatnya 24 di MI Khoerul Huda masih satu Yayasan. Di madrasah diniyah inilah murid-murid yang sudah cukup dewasa diproses, dipindah menjadi murid yang cikal bakalnya menjadi santri. Waktu itu cukup banyak, kelas 1 itu sekitar 60-an. Tetapi, yang bertahan sampai puncak 6 tahun itu hanya enam anak. Karena disiplin yang terlalu keras, pada waktu itu masih mutlak mengikuti pelajaran masih di Gontor. Akhirnya, anak-anak tidak terlalu keras. Karena, disiplin yang terlalu keras dan pelajaran juga masih mampu. Didirikannya Pondok Pesantren Modern Darunnajat itu diatas kertas dan menurut akta notaris pada 3 Desember 1983, tetapi, secara de vacto itu sebelum tahun 1983 sudah mulai berjalan kegiatan mengaji (Wahab, Komunikasi Pribadi, 2024). Pondok Pesantren Modern Darunnajat didirikan oleh K.H. Masyhudi pada tanggal 3 Desember 1983. Pesantren ini terletak di Dusun Tegalmunding, Kelurahan Pruwatan, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. K.H. Aminuddin, anak sulung dari empat bersaudara, merupakan putra dari K.H. Masyhudi dan Nyai Siti Aminah. Ia lahir di Tegalmunding, Brebes pada tanggal 14 Februari 1952 (Nurofiq, Komunikasi Pribadi, 2024). Sebelum mengasuh Pondok Pesantren Modern Darunnajat, K.H. Aminuddin mengenyam pendidikan di Pesantren Tambakberas. Saat akan melanjutkan studi di Darul Ulum University (Mesir), beliau juga nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Setelah kembali dari Timur Tengah, K.H. Aminuddin Masyhudi mulai mengabdikan diri untuk 25 mengembangkan Pondok Pesantren Modern Darunnajat yang dirintis oleh almarhum K.H. Masyhudi, yang juga merupakan ayahanda beliau sendiri (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2024). Pada tahun 1967-1968, K.H. Aminuddin menempuh pendidikan di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. 

Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo dari tahun 1969 hingga 1973, dan Pondok Asyafi’iyah, Jakarta pada tahun 1974. Selain itu, beliau juga melanjutkan pencarian ilmu di Belanda, Arab Saudi, dan Universitas Kairo Mesir hingga tahun 1981. Selama perjalanan pendidikannya tersebut, K.H. Aminuddin mengumpulkan beragam pengetahuan dan pengalaman yang kemudian beliau manfaatkan dalam mengembangkan Pondok Pesantren Modern Darunnajat. K.H. Aminuddin Masyhudi menikah dengan Hj. Qurratul Aeni dan diberkati dengan enam putra dan dua putri. Putra dan putri mereka antara lain: Kiai Miqdam Muntaqo, Kiai Ilzam Sayyidan, Gus Nabhan Perdana, Ning Misyka Nuri Fatimah, Gus M. Bahauddin, Gus Husein Ali Zaenal Abidin, Ning Latazalina Aisyah Nahdhoh, dan Gus Muhammad Nur Ghauts. Keluarga besar ini turut berperan dalam mendukung dan mengembangkan Pondok Pesantren Modern Darunnajat di bawah kepemimpinan K.H. Aminuddin (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2024). Pada tahun 1984, K.H. Aminuddin Masyhudi, dengan ilmu yang diperolehnya selama menuntut ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, 26 mengembangkan pondok pesantrennya menjadi Pondok Pesantren Modern Darunnajat. Pondok pesantren ini menerapkan beberapa cara yang ditemuinya di Pondok Pesantren Gontor, di mana santri diwajibkan menggunakan Bahasa Arab dan Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Sisi tradisionalnya, pondok pesantren ini mewarisi tradisi dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, yang masih mempertahankan penggunaan kitab kuning dalam pendidikan santrinya. Dengan demikian, Pondok Pesantren Modern Darunnajat menggabungkan unsur-unsur modern dan tradisional dalam sistem pendidikan dan kehidupan sehari-hari santrinya (Perdana, Komunikasi Pribadi, 2024). 

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Modern Darunnajat Periode Tahun 2000-2020

Pondok Pesantren Modern Darunnajat adalah pondok pesantren murni yang berkiblat ke Gontor. Pada tahun 2000, menerima santri putri dan baru ada yang namanya tsanawiyah yang sekolahnya dari kelas 1-6. Didirikannya pondok pesantren itu karena dahulu ada wadah yang Namanya diniyah. Sekolah diniyah digabung dari beberapa kelurahan, seperti kelurahan Pruwatan dan Cinanas. Akhirnya di situ dilatih belajar 2 bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab oleh abah Amin (Yusuf, Komunikasi Pribadi 2024). Pada awalnya, pondok ini hanya memiliki Yayasan Khoerul Huda. Yang waktu itu merupakan tanahnya abah H.Masyhudi.

 sebelum didirikan pondok pesantren, abah kiai aminuddin mengadakan kegiatan mengaji di 27 rumah. Waktu itu mempunyai murid 400 anak untuk diseleksi agar masuk ke darunnajat. Ujian masuk ke darunnajat itu tentang qira’at, baca Qur’an, dan khot (tajwid). Yang mengikuti ujian hanya 40 anak yang diselenggarakan di madrasah diniyah. Setelah seleksi, hanya 17 yang bisa diterima di madrasah diniyah. Dengan pelajaran yang sangat disiplin, akhirnya yang menetap hanya 7 anak, dan menjadi cikal bakal sebagai pelajar. Waktu itu yang masuk darunnajat belum disebut darunnajat. Seiring berkembangnya waktu, masyarakat mendukung dengan adanya pendirian pondok pesantren. Akhirnya, berdirilah suatu pondok, tetapi belum formal dan masih non formal yang disebut dengan KMI. Kemudian, diberi nama darunnajat.

Pendidikannya juga masih mengikuti kurikulum pendidikan lain. Setelah terus mengalami perkembangan, kemudian adanya tsanawiyah dan aliyah (Jured, Komunikasi Pribadi, 2024). Dengan adanya tsanawiyah dan aliyah, serta menerima santri putra dan putri merupakan bentuk dinamika kemajuan. Karena dari awal adanya kegiatan mengaji hanya ada santri putra, santri putri belum ada. Kemudian, seiring berjalannya waktu, santri putri masuk ke pondok pesantren mulai dari tahun 2008 (Wahab, Komunikasi Pribadi, 2024). Motto di Pondok Pesantren Modern Darunnajat adalah “Tiada detik yang lewat tanpa shalawat”. Setiap hari menjelang shalat subuh, para santri bersama-sama melantunkan shalawat hingga waktu shalat subuh tiba. Begitu pula menjelang maghrib, para santri kembali melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

Bagi santri Darunnajat, 28 melantunkan shalawat Simthud Duror atau Ratib Al-Athas bukanlah hal yang asing. Meskipun berlokasi di daerah pedesaan, Darunnajat telah menerapkan kurikulum modern (Kariman, 2024). Di Pondok Pesantren Modern Darunnajat, terdapat lembaga pendidikan formal seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang mengadopsi kurikulum dari Pondok Pesantren Gontor, serta mematuhi ketentuan dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional. Selain itu, untuk kegiatan non formal, Darunnajat menerapkan kurikulum pesantren salaf. Beberapa kegiatan non formal yang dilakukan antara lain adalah kajian kitab kuning (Ta’limul Kutub) baik dalam format bandongan maupun sorogan, program Takhfidzul Qur’an untuk siswi, dan Tahassus Lughoh (pengajaran bahasa Arab). Pondok Pesantren ini mencoba untuk menggabungkan unsur pendidikan formal dan non formal guna memberikan pendidikan yang holistik kepada para santrinya.

Untuk mencapai target Pendidikan yang dicanangkan pemerintah, pesantren yang kini santrinya berjumlah 2.400-an orang lebih putra putri dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan luar Jawa ini selalu berupaya mengingatkan saling pembelajaran dan memperbarui model pendidikan yang dinamis, yakni dengan menerapkan pendidikan integratif antara kurikulum pemerintah dan kurikulum pesantren. Program pendidikannya yaitu Kulliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) dengan jangka waktu 6 tahun yang terdiri dari Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan 29 Madrasah ‘Aliyah (MA). Bahasa untuk semua mata pelajaran adalah Bahasa Arab dan Inggris (Kariman, 2024). Kiai Aminuddin tidak hanya mengasuh pesantren, namun juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Pada tahun 2005, beliau terpilih sebagai Ketua Pusat Transparansi dan Kebijakan Publik (PUSAKA), sebuah LSM yang berperan dalam mengawasi kebijakan pemerintah di Kabupaten Brebes. Sebagai guru Tarekat Syadziliyah, kiai Aminuddin memiliki ijazah dari empat mursyid terkemuka. Ijazah pertamanya diperoleh dari Maulana Habib Lutfi (Pekalongan), diikuti oleh ijazah dari Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, Mbah Mad Watucongol, dan Syekh Yusuf.

Dalam upaya berdakwah, kiai Amin memiliki impian agar Al-Qur’an benar-benar menjadi panduan hidup. Selain itu, beliau menanamkan cinta kepada Rasulullah dengan memberikan ijazah shalawat kepada para santri. Kedekatan kiai Aminuddin dengan keturunan Rasulullah sangat kuat. Setiap tahun, Pondok Pesantren Modern Darunnajat mengadakan peringatan “Maulid Akbar” yang dihadiri oleh banyak habaib dari Brebes, Tegal, Banyumas, dan sekitarnya, bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Cinta kepada Allah dan Rasulullah merupakan fokus utama yang ingin diwujudkan oleh kiai Aminuddin dalam mendidik para santrinya (Kariman, 2024). Di Pondok Pesantren Modern Darunnajat, tidak ada sistem pergantian pemimpin.

K.H. Aminuddin Masyhudi merupakan pimpinan Pondok Pesantren Modern Darunnajat dari awal berdiri hingga beliau 30 wafat. Pada masa akhir kepemimpinan, bisa dilihat hasil perjuangan kepemimpinan beliau. Karena banyak mengalami perkembangan dengan merubah sistem, pola pendidikan yang tidak mereduksi nilai pesantren. Serta akhir dari kepemimpinannya bisa dilihat hasil dan perjuangan yang telah dilakukannya. K.H. Aminuddin Masyhudi, sosok ulama alim dan bersahaja dari Desa Tegalmunding, yang telah wafat pada selasa, 27 Juni 2023 pada usia 71 tahun. Setelah wafatnya beliau, Pondok Pesantren Modern Darunnajat kemudian dipimpin oleh anak pertamanya yang bernama Miqdam Muntaqo. Menurut K.H. Aminuddin Masyhudi, pesantren yang didirikan dengan harapan mampu membentuk kader umat yang militan berdasarkan iman dan taqwa kepada Allah, menjadi ahli piker dan dzikir, berakhlak mulia seta berkhdimat kepada agama, nusa, dan bangsa.

” Sekali menjadi santri sudah itu sampai mati “

K.H. Aminuddin Masyhudi

Mission

1. Mengadakan pendidikan yang berbasis pesantren. 2. Mengadakan pembelajaran yang dinamis dalam pendidikan, pengajaran, dan teknologi. 3. Mewujudkan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi harian dan pengantar pembelajaran.

Vision

Mencetak generasi yang ahli dalam dzikir