Goresan Tinta Menjelajah Dunia

Kurator itu tersenyum. “Bulan depan ada pameran kaligrafi tingkat nasional di Jakarta. Kamu mau ikut?”

Ahmad terdiam. Ia belum pernah keluar dari desanya, apalagi pergi ke ibu kota. Namun Kyai Hamdan mendorongnya. “Pergilah, Ahmad. Ini kesempatanmu. Bawa nama baik Dar El Karim.”

Dengan bekal doa dan sedikit uang hasil patungan para santri Dar El Karim, Ahmad berangkat ke Jakarta. Dunia terasa begitu besar baginya. Gedung-gedung tinggi, jalanan padat, dan orang-orang dengan gaya hidup yang berbeda membuatnya kagum sekaligus gugup.

Dalam pameran itu, karya Ahmad yang berjudul “Iqra” menarik perhatian banyak pengunjung. Tulisan itu sederhana, tetapi penuh makna. Ia menulisnya dengan perpaduan gaya Tsuluts yang tegas dan sentuhan modern yang segar. Tak disangka, ia memenangkan juara kedua.

Kemenangan itu menjadi pintu pertama menuju dunia yang lebih luas.

Dari Jakarta, namanya mulai dikenal. Ia diundang untuk mengisi workshop di berbagai kota seperti Surabaya dan Bandung. Setiap kali berbicara di depan peserta, Ahmad selalu mengenakan sarung dan peci hitamnya. Ia bangga sebagai santri Dar El Karim. Ia ingin menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga tempat lahirnya seniman dan profesional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *