Goresan Tinta Menjelajah Dunia

Ia melanjutkan, “Jangan pernah merasa kecil karena berasal dari desa atau pesantren. Dunia itu luas, dan ilmu adalah kendaraan kita. Kalau kita tekun dan ikhlas, Allah bisa membuka jalan dari arah yang tak disangka-sangka.”

Para santri Dar El Karim mendengarkan dengan mata berbinar. Mereka melihat bukti nyata di hadapan mereka: seorang santri yang menjelajahi dunia dengan bekal kaligrafi.

Di malam hari, Ahmad kembali duduk di serambi masjid Dar El Karim, seperti dulu. Ia mencelupkan pena ke dalam tinta, lalu menulis perlahan di atas kertas putih: “Wa man yatawakkal ‘alallah fahuwa hasbuh.” Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.

Angin desa berhembus lembut. Ahmad tersenyum. Perjalanannya mungkin telah membawanya ke banyak negara, tetapi hatinya tetap tertambat di Dar El Karim, tempat di mana semua mimpi itu bermula.

Dan dari goresan tinta yang sederhana, seorang santri Dar El Karim telah membuktikan bahwa dengan kesabaran, doa, dan ketekunan, dunia bisa dijelajahi tanpa kehilangan jati diri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *