Di perumahan Griya senja, Bumi dikenal sebagai anak yang ‘kasihan’. Di usianya yang ke tujuh, dia bahkan masih sering memakai kaus kaki terbalik. Dia selalu kalah petak umpet dengan teman-teman sebayanya, bukan karena dia tidak pandai bermain, hanya saja karena dia selalu bersembunyi di balik pohon yang lebih kecil dari tubuhnya. Dia lambat, kikuk, dan seringkali terlihat seolah-olah pikirannya sedang tertinggal di planet lain.
Namun, setiap pukul 16:00 sore, tepat saat lonceng penjual es tong-tong lewat, Bumi akan keluar rumah dengan sepotong kapur putih di tangan kanannya itu.
Saat ulang tahunnya yang ke tujuh, orang tuanya membelikannya satu kotak penuh kapur tulis putih sebagai hadiah, mendengar dari guru di sekolahnya bahwa Bumi selalu mencorat-coret papan tulis dengan kapur bahkan dinding pun tak luput dari coretan nya.
Apa yang ia lakukan memang kekanak-kanakan dan cukup merugikan sekolah, tapi melihat Bumi yang tidak bisa melakukan apapun dengan benar, setidaknya hanya itulah yang bisa ia lakukan.
“Bumi bebas melakukan apapun yang Bumi suka, tidak harus seperti yang dilakukan orang lain, cukup untuk membuat Bumi senang saja” itulah yang orang tuanya ucapkan saat Bumi terlihat sangat senang menerima hadiah sekotak kapur putih itu.
Setiap sore hari dia tidak pergi ke taman bermain, melainkan menuju ke buntu sudut di ujung jalan blok C. Di sana, terdapat area aspal yang sudah retak-retak di sana sini termakan usia. Bumi datar di atas aspal kasar itu, mengabaikan debu yang mengotori celana pendeknya, lalu menarik satu garis lurus. Hanya satu garis, panjangnya mungkin sekitar 10 sentimeter.
“Bumi, ayo main bola!” teriak anak-anak lain yang lewat. Bumi tidak menoleh. Tatapannya tertuju pada ujung kapur yang bergesekan dengan kasar dengan permukaan aspal.

