Sofiatun Anjani

Simfoni Sumbang di Antara Sepatu Kets dan Pantofel

Di bentangan bangunan daerah pegunungan, pagi tidak datang dengan santun. Ia menyerbu. Dinginnya angin dari kaki Gunung bukan sekadar menyapa kulit, tapi menusuk hingga ke sumsum tulang. Di Pondok Pesantren Modern itu kabut tebal yang menyelimuti asrama putri bukanlah alasan untuk menarik selimut kembali. Justru, kabut itu adalah tirai panggung bagi ribuan santri yang hidup dalam disiplin militer berbalut religiusitas. Tepat pukul 03.45 pagi, suara jaras (bel) membelah kesunyian lembah itu. Bukan ting-tung yang manis, melainkan dering panjang yang agresif, seolah berteriak, “Bangun atau tertinggal!” Nadia, kelas 5 KMI yang menjabat sebagai pengurus santri sudah terjaga lima menit sebelum jaras berbunyi. Di kamar para pengurus dia adalah anomali yang paling mencolok. Sementara teman-teman sekamarnya masih bergulat dengan mimpi, ada yang mengigau, ada yang selimutnya terbang entah kemana. Tapi Nadia sudah berdiri di depan cermin lemari kayunya yang dingin. Dia mematut diri. Kerudung putihnya tegak paripurna, ciputnya tak miring satu milimeter pun. Di dada kirinya, tersemat lencana emas bertuliskan Qismul Lughoh (Bagian Bahasa). Benda kecil dari seng itu punya aura magis. Bagi santri rajin, itu simbol pengabdian. Bagi para pelanggar bahasa, itu adalah mata yang tak pernah berkedip.“Bahasa adalah mahkota pondok,” gumam Nadia pada pantulan dirinya. Itu bukan sekadar slogan, itu adalah doktrin yang ia telan bulat-bulat sejak kelas satu. Hari ini, pertaruhannya besar. Drama Contest. Kompetisi paling bergengsi yang bisa mengubah status sosial sebuah organisasi pengurus santri dalam semalam. Organisasi pengurus Khadijah, di bawah komando tegas Nadia, membawa beban sejarah sebagai juara bertahan tiga tahun berturut-turut sejak kakak kelas mereka menjabat.

Simfoni Sumbang di Antara Sepatu Kets dan Pantofel Read More »

Garis putih di atas aspal abu-abu

Di perumahan Griya senja, Bumi dikenal sebagai anak yang ‘kasihan’. Di usianya yang ke tujuh, dia bahkan masih sering memakai kaus kaki terbalik. Dia selalu kalah petak umpet dengan teman-teman sebayanya, bukan karena dia tidak pandai bermain, hanya saja karena dia selalu bersembunyi di balik pohon yang lebih kecil dari tubuhnya. Dia lambat, kikuk, dan seringkali terlihat seolah-olah pikirannya sedang tertinggal di planet lain. Namun, setiap pukul 16:00 sore, tepat saat lonceng penjual es tong-tong lewat, Bumi akan keluar rumah dengan sepotong kapur putih di tangan kanannya itu. Saat ulang tahunnya yang ke tujuh, orang tuanya membelikannya satu kotak penuh kapur tulis putih sebagai hadiah, mendengar dari guru di sekolahnya bahwa Bumi selalu mencorat-coret papan tulis dengan kapur bahkan dinding pun tak luput dari coretan nya. Apa yang ia lakukan memang kekanak-kanakan dan cukup merugikan sekolah, tapi melihat Bumi yang tidak bisa melakukan apapun dengan benar, setidaknya hanya itulah yang bisa ia lakukan. “Bumi bebas melakukan apapun yang Bumi suka, tidak harus seperti yang dilakukan orang lain, cukup untuk membuat Bumi senang saja” itulah yang orang tuanya ucapkan saat Bumi terlihat sangat senang menerima hadiah sekotak kapur putih itu. Setiap sore hari dia tidak pergi ke taman bermain, melainkan menuju ke buntu sudut di ujung jalan blok C. Di sana, terdapat area aspal yang sudah retak-retak di sana sini termakan usia. Bumi datar di atas aspal kasar itu, mengabaikan debu yang mengotori celana pendeknya, lalu menarik satu garis lurus. Hanya satu garis, panjangnya mungkin sekitar 10 sentimeter. “Bumi, ayo main bola!” teriak anak-anak lain yang lewat. Bumi tidak menoleh. Tatapannya tertuju pada ujung kapur yang bergesekan dengan kasar dengan permukaan aspal.

Garis putih di atas aspal abu-abu Read More »