Sampailah pada adegan klimaks. Rara harus berteriak frustrasi pada langit. Emosinya memuncak. Air mata Rara benar-benar menetes. Dia lupa naskah & lupa dunia. Dia hanya seorang ibu yang putus asa. Harusnya dia berteriak, “Where is the water?!” Tapi otak Rara mengalami korsleting mendadak akibat luapan emosi dan kebiasaan ngapaknya. Dia berteriak sekuat tenaga.
“WHERE IS THE BANYU… EH, I MEAN, WATER?!”
Waktu seolah berhenti sedetik.
Kata “Banyu” (Air dalam bahasa Jawa) menggema dengan tekanan yang dalam di sistem suara berkekuatan ribuan watt itu. Kontras sekali dengan suasana Arab kuno yang dibangun dalam drama mereka.
Lalu, ledakan itu terjadi.
Bukan ledakan marah. Melainkan tawa, gelak tawa membahana dari ribuan santri. Tawa yang renyah, tawa yang lepas. Bahkan para Ustadz di depan tertawa sampai bahu mereka terguncang.
Nadia, yang mengintip dari balik tirai sayap panggung, menahan napas. Apakah ini bencana?
Tidak. Di panggung, Rara tidak panik. Dia justru memanfaatkan momen itu. Ia menjatuhkan diri ke lantai, menangis lebih keras, seolah-olah ‘keseleo lidah’ itu adalah bagian dari kegilaan Siti Hajar yang dehidrasi. Dia mengubah kesalahan fatal menjadi komedi tragis yang jenius. Tepuk tangan bergemuruh, lebih keras dari penampilan pengurus mana pun. Drama itu berakhir dengan standing ovation.
Malam itu, di kamar pengurus Khodijah. Piala Juara 1 tidak mampir ke kamar mereka. Mereka kalah poin teknis bahasa, tentu saja. Juara jatuh ke tangan pengurus Aisyah yang naskahnya kaku tapi grammar-nya sempurna. Namun, pengurus Khadijah membawa pulang piala “Aktris Terbaik” untuk Rara dan “Drama Terfavorit” pilihan penonton.
Nadia duduk di tepi kasurnya, menulis di buku harian bersampul kulit miliknya. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya rembulan yang masuk dari ventilasi.

