Simfoni Sumbang di Antara Sepatu Kets dan Pantofel

“Maaf,” ucap Nadia. Satu kata bahasa Indonesia di zona wajib bahasa asing. Pelanggaran berat bagi seorang ketua bahasa. Rara tertawa kecil. “Denda. Lari keliling lapangan besok pagi.”
“Aku serius, Ra. Aku,,,, cuma takut kita kalah. Hanya takut mengecewakan pondok.”
“Kita nggak akan kalah karena salah grammar,” Rara menatapnya lekat. “Kita kalah kalau kita main tanpa hati. Biarkan aku jadi Siti Hajar versi Rara, bukan versi kamus Oxford.”
Nadia menghela napas, lalu mengangguk mantap. “Oke. Deal. Lupakan grammar 100%. Mainkan pakai hatimu. Kalau salah, improvisasi. Biar aku yang pasang badan depan Ustadz Farhan.”
“Nah, itu baru sutradara gue,” cengir Rara.

Malam puncak. Aula utama pondok berubah menjadi lautan manusia. Ribuan santri duduk bersila, sorot mata mereka memantulkan antusiasme. Di barisan depan, para Asatidz (guru) dan juri tamu duduk dengan wajah serius.
Pengurus Khadijah tampil di urutan terakhir. Saat lampu sorot menyala, Rara bukan lagi Rara si santri malas. Seakan dia telah bertransformasi menjadi karakter Siti Hajar yang menderita. Dia berlari di antara replika bukit Safa dan Marwa, wajahnya penuh debu bedak, matanya liar mencari air untuk anaknya yang menangis. Musik latar yang menyayat hati berpadu dengan monolog Rara yang, meski logat Jawanya masih terdengar, memiliki kekuatan magis. Penonton terhipnotis. Bahkan Ustadz Farhan terlihat mencondongkan tubuhnya ke depan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *