Garis putih di atas aspal abu-abu

“Bumi, itu cuma coretan, Nak,” kata ibu-ibu yang sering lewat, berkali-kali dengan nada lelah yang sama. “Kenapa tidak menggambar gunung? Atau mobil?” Bumi hanya menggeleng pelan. Baginya, garis itu bukan sekadar coretan. Garis itu adalah satu-satunya hal yang bisa dia kendalikan di dunia yang berjalan terlalu cepat baginya.

Hari ke-10, garis itu ada di sana.Hari ke-50, garis itu menumpuk di tempat yang sama, membuat lapisan kapur yang tebal. Hingga Hari ke-100, saat hujan badai melanda dan anak-anak lain mendekam di bawah selimut, Bumi berdiri di bawah payung kuningnya yang bocor, menunggu hujan reda hanya untuk memastikan dia bisa menarik garisnya sebelum matahari benar-benar hilang.

Orang-orang mulai berhenti bertanya. Mereka menganggap itu adalah “ritual anak aneh.” Mereka tidak tahu bahwa konsistensi adalah bentuk kejeniusan yang paling sunyi.

Setahun telah berlalu. Bumi masih tetap Bumi yang sama. Dia masih sering mengarahkan kakinya sendiri saat berjalan, dan dia masih menjadi satu-satunya anak di kelas dua SD yang belum lancar membaca kalimat panjang. Guru-gurunya sudah angkat tangan, mengira sebagai anak yang “lambat tumbuh.” Namun, di ujung Blok C, sesuatu yang ajaib, atau mungkin mengerikan, sedang terjadi.

Aspal yang retak itu kini tidak lagi terlihat abu-abu. Di titik itu, ada sebuah gundukan kecil berwarna putih yang keras. Bayangkan saja: 365 hari, 365 lapis kapur yang ditekan dengan kekuatan yang sama, di atas koordinat yang sama persis. Garis itu kini bukan lagi coretan dua dimensi. Ia telah menjadi fosil waktu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *