Garis putih di atas aspal abu-abu

Suatu sore, pak Danu, kepala desa Griya senja yang tinggal di Blok A, tidak sengaja berhenti saat sedang lari sore. Dia melihat Bumi tergeletak dengan khusyuk. “Bumi, sedang apa?” tanya Pak Danu, napasnya tersengal. Bumi tidak menjawab. Dia sedang berada di detik-detik krusial. Tangannya yang mungil memegang sisa kapur yang tinggal seujung kuku. Dia menarik garis itu. Srak!. Suaranya tidak lagi nyaring seperti kapur di atas aspal, tapi berat, seperti batu beradu batu.

Pak Danu berjongkok, mengamati gundukan putih itu. Dia menyentuhnya. “Ini… keras sekali,” gumamnya. Dia menyadari sesuatu yang ganjil. Garis itu tidak pernah meleset meski satu milimeter pun. Lapisan demi lapisan tertumpuk dengan presisi yang bahkan mesin cetak 3D paling canggih pun akan kesulitan menirunya. “Kenapa harus di sini, Bumi?” tanya Pak Danu lagi.

Bumi akhirnya menengadah. Matanya jernih, tanpa beban, tipikal anak yang sering disebut “bodoh” oleh dunia tapi sebenarnya sedang melihat sesuatu yang berbeda. “Karena di sini tanahnya berbisik, Pak. Katanya, dia haus.” Pak Danu tertawa kecil, menganggap itu hanya imajinasi anak kecil. Namun, tawa itu hilang saat dia melihat ke arah jalanan utama. Sore itu, kontraktor perumahan datang dengan alat berat. Mereka akan mengaspal ulang seluruh jalan di Blok C. Termasuk buntu sudut ini. “Bumi, besok mereka akan menutup tempat ini dengan aspal panas,” kata Pak Danu dengan nada prihatin. “Garis kamu akan hilang.”

Bumi hanya menatap gundukan putihnya yang setebal dua sentimeter itu. Dia tidak menangis, Dia tidak marah, Dia hanya mengambil kapur baru dari saku celananya. “Garisnya tidak akan hilang, Pak,” ucap Bumi datar. “Dia hanya akan bersembunyi.”

Besoknya, drama dimulai. Para pekerja jalanan datang dengan mesin penggilas. Mereka menuangkan aspal hitam yang mendidih di atas sisa-sisa karya Bumi. Semua orang mengira obsesi aneh anak itu telah berakhir. Tapi mereka salah. Mereka tidak tahu bahwa konsistensi yang dilakukan dengan hati akan menciptakan ingatan pada benda mati.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *