Aspal itu masih baru. Hitam pekat, halus, dan beraroma bitumen tajam yang menyengat hidung. Bagi warga Perumahan Griya Senja, itu adalah kemajuan. Tapi bagi Bumi, itu hanyalah sebuah kanvas baru yang sedikit lebih keras. Pukul 16.00 sore seperti biasanya. Langit sedang berwarna jingga pucat, jenis warna yang membuat segalanya tampak seperti lukisan kucing air yang belum kering. Bumi datang. Dia tidak membawa payung meski mendung menggantung di atas sana. Di tangannya, sebatang kapur tulis putih baru. Dia berjalan menuju sudut buntu itu. Langkahnya tetap tidak jelas, pemahaman kaki masih sedikit terhambat, tetapi tujuannya sangat hanya satu. Dia berhenti tepat di atas titik di mana gundukan kapur setahunnya terkubur.
“Bumi, jangan dikotori dulu! Aspalnya belum benar-benar dingin!” teriak Pak Danu dari kejauhan. Bumi tidak mendengar, atau lebih tepatnya, dia memilih hal lain untuk didengarkan. Dia berlutut. Suhu aspal masih menyisakan hangat yang bisa dirasakan melalui kulit lututnya yang tipis. Dia menempelkan ujung kapurnya ke permukaan hitam yang legam itu. Srak! Garis pertama di atas aspal baru. Putih bersih. Kontrasnya begitu tajam hingga menyakitkan mata.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat Bumi menarik garis sepanjang 10 sentimeter itu, dia tidak melakukannya dengan ringan. Dia menekan kapur itu dengan seluruh berat badannya. Kapur itu patah, tapi Bumi terus menekannya hingga jari-jarinya memutih. Tiba-tiba, terdengar suara krek yang halus. Bukan suara kapur patah. Pak Danu, yang sedang menyiram tanaman di seberang jalan, menjatuhkan selangnya. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, di bawah tekanan tangan kecil Bumi, aspal yang seharusnya masih elastis dan kuat dan baru itu retak.
Retakannya tidak sembarangan. Retakan itu mengikuti garis putih Bumi. “Tidak mungkin…” gumam Pak Danu. Dia mendekat, rasa penasarannya mengalahkan logika. Dia melihat ke arah garis itu. Di bawah lapisan aspal hitam yang tebalnya hampir lima sentimeter, gundukan kapur lama Bumi seolah-olah sedang berdenyut. Lapisan kapur setahun itu tidak mau mengalah. Ia menolak untuk diberitahukan. Ia menjadi fondasi yang lebih keras dari batu kali, seolah-olah konsistensi Bumi selama 365 hari telah mengubah susunan atom kapur itu menjadi sekeras berlian. “Bumi, berhenti dulu,” ujar Pak Danu, suaranya gemetar. “Kamu tahu apa yang kamu lakukan?”. Bumi menoleh. Keringat membasahi dahi mungilnya. “Bumi cuma mau meneruskan garisnya, Pak. Kasihan dia kalau tidak bisa melihat matahari.”

