Selama seminggu berikutnya, hal gila terjadi. Setiap hari, Bumi menambah satu lapis lagi. Dan entah bagaimana, retakan itu semakin melebar secara alami. Aspal di sekeliling garis putih itu mulai mengelupas dengan sendirinya, seolah-olah Bumi sedang melakukan operasi bedah di jalanan tersebut. Para pekerja jalanan yang datang untuk memperbaiki cacat di aspal baru itu persis seperti yang diharapkan. Setiap kali mereka mencoba menambal titik itu, mesin mereka macet. Bor mereka tumpul.
Orang-orang mulai berkumpul setiap sore. Mereka yang dulu mengejek Bumi sebagai anak yang “tidak bisa apa-apa,” kini berdiri dalam diam, menonton seorang anak kecil yang gagal dalam matematika, gagal dalam olahraga, tapi berhasil membelah aspal hanya dengan sepotong kapur dan keteguhan hati. Dunia mulai menyadari, Bumi bukannya tidak bisa apa-apa. Dia hanya sedang melakukan satu hal yang menurutnya benar, berkali-kali, sampai dunia harus mengalah.
Tiga tahun telah berlalu sejak aspal itu pertama kali retak. Bumi kini berumur sepuluh tahun. Tubuhnya sedikit lebih tinggi, tapi matanya tetap sama, kosong bagi mereka yang tidak paham, namun penuh rahasia bagi mereka yang mau memperhatikan. Hari itu adalah Hari ke-1095. Tepat tiga tahun. Langit Perumahan Griya Senja tidak lagi jingga. Sayangnya, langit berwarna ungu pekat yang mengerikan. Radio dan televisi menyiarkan peringatan dini, pergerakan tanah besar-besaran sedang terjadi di wilayah perbukitan di balik perumahan mereka. Struktur tanah yang labil akibat pembangunan yang serampangan mulai runtuh.
“Evakuasi! Semuanya keluar!” teriak petugas keamanan lewat pengeras suara.Warga berlarian. Mobil-mobil berdesakan keluar gerbang. Di tengah ketakutan itu, Pak Danu teringat sesuatu. Dia menoleh ke arah ujung Blok C. Di sana, di tengah rintik hujan yang mulai turun, sebuah bayangan kecil duduk bersila. Itu Bumi. “Bumi! Ayo pergi! Tanah ini mau longsor!” teriak Pak Danu sambil berlari mendekatinya. Bumi tidak bergerak. Di tangannya ada sepotong kapur emas, hadiah dari Pak Danu setahun yang lalu. Hari ini adalah hari terakhir dari kotak kapur itu. Bumi tidak sedang menggambar. Dia sedang melakukan satu hal yang dia kuasai, menyelesaikan garisnya.

