KRAAAKK!!
Suara menggelegar terdengar dari arah bukit. Aspal di jalan utama mulai terbelah seperti kertas yang disobek. Fondasi rumah-rumah retak. Tanah seolah-olah ingin menelan seluruh Perumahan Griya Senja. Tapi, sebuah fenomena aneh terjadi di ujung Blok C. Saat Bumi menarik garis terakhirnya, garis ke-1095, sebuah getaran frekuensi rendah merambat dari bawah gundukan kapur itu. Gundukan kapur yang telah memadat selama tiga tahun ternyata bukan sekadar tumpukan kalsium. Tekanan konsisten yang Bumi lakukan setiap hari, pada jam yang sama, dengan niat yang sama, telah menciptakan sebuah “paku bumi” alami. Jutaan partikel kapur itu telah merembes masuk ke dalam retakan aspal, menyusup ke celah-celah tanah, dan membeku menjadi pilar kristal yang sangat dalam.
Tanah di sekitar Bumi tidak bergeser. Blok C, yang seharusnya menjadi area paling terdampak karena letaknya di bawah lereng, justru berdiri tegak. Retakan besar yang merambat dari jalan utama berhenti tepat satu sentimeter di depan garis putih Bumi. Seolah-olah garis itu adalah dinding suci yang tidak boleh dilewati oleh bencana. Bumi berdiri. Dia meniup debu kapur di tangannya. Hujan deras mengguyur, tapi anehnya, garisnya tidak luntur. Ia justru bersinar redup di tengah kegelapan badai.
Besoknya, para ahli geologi datang. Mereka terheran-heran melihat bagaimana satu blok perumahan bisa selamat dari retakan tanah yang menghancurkan blok lainnya. Mereka melakukan pemindaian bawah tanah dan menemukan sesuatu yang mustahil, ada struktur vertikal sedalam sepuluh meter di bawah titik itu. Strukturnya terbentuk dari karbon yang sangat padat, menyerupai akar pohon purba yang mengikat tanah di sekitarnya.
“Siapa yang membangun fondasi kerangka ini?” tanya salah satu ahli. Pak Danu, yang berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca, hanya menunjuk ke arah seorang anak kecil yang sedang duduk di teras rumahnya, sibuk mencoba mengikat tali sepatunya, meski tetap gagal berkali-kali. “Anak itu pak” jawab Pak Danu singkat. “Dia yang tidak bisa apa-apa, kecuali melakukan satu hal yang menurut kami tidak berguna sama sekali.”
Dunia akhirnya belajar satu hal dari Bumi. Bahwa kejeniusan bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kau lakukan, tapi tentang seberapa kuat kau bertahan pada satu hal yang kau yakini.

