Selanjutnya, Hb. Muhsin menyampaikan mauidhoh singkat sebelum memimpin manaqib. Beliau menjelaskan tentang lima malam yang doa-doanya tidak akan ditolak oleh Allah SWT, salah satunya adalah malam Jum’at.
“Di antara malam yang mustajab untuk berdoa adalah malam Jum’at” tutur Hb. Muhsin. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan manaqib yang dipimpin langsung oleh beliau.
Setelah rangkaian maulid selesai, jamaah kembali mendapatkan siraman rohani melalui Mauidzoh Khasanah dari KH. Hidayatulloh Alawi Yunus. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan tiga peristiwa besar di bulan Sya’ban.
“Pertama, di bulan Sya’ban terjadi perubahan kiblat, yang mengajarkan kita pentingnya perubahan diri menuju ketaatan. Kedua, diangkatnya amal tahunan, sehingga Rasulullah sangat mencintai puasa di bulan Sya’ban. Ketiga, turunnya ayat perintah bershalawat kepada Nabi,” jelas beliau.
Beliau juga membagikan kisah teladan dari Abah Amin, yang dikenal istiqamah dalam dzikir dan kepedulian sosial.
“Dari pondok ke Wonosobo, dari pondok ke Cirebon, Abah tidak pernah lepas dari tasbih, yaitu tidak pernah lepas untuk membaca sholawat. Setiap masuk desa beliau mengangkat tangan untuk mendoakan, dan setiap bertemu tukang parkir di pasar, Abah Yai Amin selalu mengambil uangnya dan memberinya,” kenangnya.
Menambahkan hal tersebut, Yai Nabhan Perdana menyampaikan bahwa Abah Amin senantiasa membaca shalawat minimal 12.000 kali setiap hari, sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah.
Rangkaian acara JUMPA MAULANA ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Yai Miqdam Muntaqo, menandai berakhirnya majelis dengan penuh harap akan keberkahan dan rahmat Allah SWT.

