Simfoni Sumbang di Antara Sepatu Kets dan Pantofel

Di bentangan bangunan daerah pegunungan, pagi tidak datang dengan santun. Ia menyerbu. Dinginnya angin dari kaki Gunung bukan sekadar menyapa kulit, tapi menusuk hingga ke sumsum tulang. Di Pondok Pesantren Modern itu kabut tebal yang menyelimuti asrama putri bukanlah alasan untuk menarik selimut kembali. Justru, kabut itu adalah tirai panggung bagi ribuan santri yang hidup dalam disiplin militer berbalut religiusitas. Tepat pukul 03.45 pagi, suara jaras (bel) membelah kesunyian lembah itu. Bukan ting-tung yang manis, melainkan dering panjang yang agresif, seolah berteriak, “Bangun atau tertinggal!”


Nadia, kelas 5 KMI yang menjabat sebagai pengurus santri sudah terjaga lima menit sebelum jaras berbunyi. Di kamar para pengurus dia adalah anomali yang paling mencolok. Sementara teman-teman sekamarnya masih bergulat dengan mimpi, ada yang mengigau, ada yang selimutnya terbang entah kemana. Tapi Nadia sudah berdiri di depan cermin lemari kayunya yang dingin. Dia mematut diri. Kerudung putihnya tegak paripurna, ciputnya tak miring satu milimeter pun. Di dada kirinya, tersemat lencana emas bertuliskan Qismul Lughoh (Bagian Bahasa). Benda kecil dari seng itu punya aura magis. Bagi santri rajin, itu simbol pengabdian. Bagi para pelanggar bahasa, itu adalah mata yang tak pernah berkedip.
“Bahasa adalah mahkota pondok,” gumam Nadia pada pantulan dirinya. Itu bukan sekadar slogan, itu adalah doktrin yang ia telan bulat-bulat sejak kelas satu.

Hari ini, pertaruhannya besar. Drama Contest. Kompetisi paling bergengsi yang bisa mengubah status sosial sebuah organisasi pengurus santri dalam semalam. Organisasi pengurus Khadijah, di bawah komando tegas Nadia, membawa beban sejarah sebagai juara bertahan tiga tahun berturut-turut sejak kakak kelas mereka menjabat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *