“Wake up! Wake up!, ladies! The sun doesn’t wait for your dreams!” Nadia menepuk tangan keras-keras. Kekacauan dimulai. Bunyi ember beradu, langkah kaki berlarian di lorong, dan antrean kamar mandi yang mengular. Namun, mata elang Nadia tidak sedang mengawasi antrean mandi. Dia mencari target utamanya.
Rara. Sahabat sekamarnya itu masih bergulung dalam selimut motif Doraemon yang sudah pudar warnanya. Rara adalah kebalikan dari Nadia. Jika Nadia adalah naskah pidato yang terstruktur rapi, maka Rara adalah puisi bebas yang ditulis di tisu bekas gorengan. Berantakan, tapi ngena.
“Ra,” Nadia mengguncang bahu Rara. “Jangan bilang kamu begadang lagi buat gambar komik.”
Rara mengerang, rambutnya mencuat seperti singa betina yang gagal bonding. “Lima menit lagi, Nad. Please… I am… sleepy…” Nadia mendelik. Buku catatan pelanggaran, buku kecil berwarna hitam yang ditakuti seluruh santri, sudah siap di tangannya.
“I am sleepy itu betul. Tapi kalau kamu bilang I am sleep lagi kayak kemarin, aku benar-benar akan kasih kamu poin pelanggaran, Ra. Meskipun kamu sahabatku.”
Rara duduk, matanya setengah terpejam. Dia menguap lebar. “Nad, kamu terlalu kaku. Grammar itu cuma kerangka. Rasa-nya itu ada di ekspresi.”
“Tanpa kerangka, rasa kamu itu kayak hantu gentayangan. Nggak jelas bentuknya,” balas Nadia tajam. “Ingat, juri tahun ini didatangkan langsung dari Gontor. Ustadz Farhan. Beliau itu kamus berjalan. Satu verb salah, nilai kita hancur.”
Rara hanya menghela napas panjang, meraih handuknya dengan malas. Di rak sepatu, sepatu kets Rara yang penuh noda cat lukis tergeletak miring, menindih sepatu pantofel hitam mengkilap milik Nadia yang berjejer presisi. Sebuah metafora aneh yang luput dari pandangan Nadia pagi itu.

