Siang hari di pondok terasa memanggang. Matahari di pegunungan ini seolah ingin membalas dendam atas dinginnya pagi. Di Aula Serbaguna, geladi resik terakhir sedang berlangsung. Atmosfernya tegang, penuh keringat, dan aroma ambisi.
Organisasi pengurus Khadijah membawakan naskah legendaris “Siti Hajar dan Air Zam-zam”, tapi dengan sentuhan kontemporer, sebuah ide gila Nadia untuk menggambarkan pergulatan batin Siti Hajar lewat monolog bahasa Inggris tingkat tinggi.
Rara, sang primadona panggung, berdiri di tengah sorotan lampu. Bakat aktingnya memang tak terbantahkan. Saat dia menangis, penonton bisa merasakan perihnya pasir gurun. Namun, masalahnya klasik, lidah Rara adalah lidah Jawa medok yang sering terpeleset saat bertemu tenses rumit.
“Oh, God…” Rara berdialog, suaranya bergetar penuh emosi. “Why You leave me here? I… I was… searching…”
“Cut!” Nadia memotong dari kursi sutradara. Musik berhenti mendadak. Semua pemain terdiam.
“Rara,” Nadia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Naskahnya bilang, Why have You left me here? Itu Present Perfect! Nuansanya beda! Kalau Why You leave me, itu Simple Present, kesannya kamu nanya rutinitas Tuhan ninggalin kamu setiap hari! Fatal, Ra!” Rara menunduk di panggung. Wajahnya merah padam, bukan karena akting, tapi karena malu. Puluhan adik kelas dan pengurus lain menonton.
“Nad, yang penting kan pesannya nyampe…” Rara mencoba membela diri.
“Pesan apa?” sergah Nadia, suaranya meninggi, memantul di dinding aula. “Pesan bahwa pengurus Khadijah nggak becus ngajarin grammar? Kita ini role model, Rara! Kalau pemeran utamanya saja bahasanya belepotan, gimana adik kelas mau respek sama Bagian Bahasa?”
Hening. Kata-kata itu terlalu tajam. Rara menatap Nadia, tatapan yang sulit diartikan. Ada kecewa, ada lelah, dan ada sesuatu yang retak di sana.

