Simfoni Sumbang di Antara Sepatu Kets dan Pantofel

Tanpa sepatah kata, Rara melepas selendang kostumnya. Dia menjatuhkannya ke lantai panggung, lalu turun dan berjalan keluar aula. Langkahnya cepat, meninggalkan gema pintu yang terbanting.
“Lanjut!” teriak Nadia, meski hatinya mencelos. “Adik kelas 4, siap-siap jadi backup peran utama!”
Tapi tak ada yang bergerak. Semua mata menatap Nadia dengan takut, dan sedikit rasa kasihan.

Sore hari setelah hari itu, langit melukis dirinya dengan warna jingga keunguan, pemandangan yang biasanya menenangkan hati. Namun bagi Nadia, sore ini terasa mencekik. Rara hilang.
Nadia sudah mencari ke kantin, ke asrama, bahkan ke “Dapur Umum” tempat para santri biasa menyelundupkan mie instan. Nihil.
Insting membawanya ke lantai teratas Gedung asrama, area jemuran yang sepi, tempat di mana santri biasa mencari angin atau menangis diam-diam. Di sana, di sela-sela deretan seragam yang melambai tertiup angin bukit, Rara duduk bersila menghadap lembah.


Bukan naskah drama yang dipegangnya, melainkan sketchbook. Nadia mendekat perlahan, derap pantofelnya terdengar kontras dengan lantai semen kasar. “Ra?” Rara tidak menoleh. Dia sibuk menggoreskan pensil arang. “Kamu mau bikin aku mati jantungan? Dua jam lagi kita tampil,” suara Nadia melunak, sisa arogansinya luruh oleh rasa bersalah. Rara memutar buku sketsanya. Nadia tertegun. Itu adalah gambar karikatur. Gambar seorang gadis berseragam pengurus bahasa, memakai mahkota raksasa yang terbuat dari tumpukan kamus tebal. Mahkota itu begitu besar dan berat hingga menutupi mata si gadis, membuatnya berjalan menabrak orang-orang kecil di sekitarnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *