“Apa ini… aku?” tanya Nadia pelan. “Bagus kan?” Rara tersenyum tipis, tapi matanya tidak. “Nad, kamu tahu kenapa pondok kita disebut pondok ‘Modern’?” Nadia hendak menjawab dengan definisi standar kurikulum, tapi Rara segera memotong.
“Modern itu bukan cuma soal bisa bahasa Inggris, Nad. Modern itu soal cara berpikir. Open minded. Dulu, kamu yang ngajarin aku kalau sastra itu soal rasa, soal memanusiakan manusia. Tapi sejak kamu pakai lencana itu…” Rara menunjuk dada kiri Nadia, “…kamu berubah jadi mesin koreksi otomatis.”
Angin sore menerpa wajah Nadia, membawa aroma tanah basah.
“Kamu terlalu sibuk menjaga wibawa bahasa sampai lupa kalau bahasa itu alat komunikasi, bukan alat intimidasi,” lanjut Rara. “Kalau aku di panggung nanti mikirin Subject-Verb Agreement setiap detik, aku bukan Siti Hajar yang menderita, Nad. Aku cuma robot yang lagi ujian TOEFL.”
Pertahanan Nadia runtuh. Dia melihat ke bawah, ke arah bukit-bukit hijau yang mengelilingi pondok. Dia sadar, selama ini dia mengejar kesempurnaan teknis demi sebuah piala, tapi melupakan esensi dari seni itu sendiri. Nadia duduk di samping Rara, melipat kakinya tanpa peduli roknya kotor.

