“Malam ini, tempat ini mengajarkanku bab baru yang tidak ada di Kitab manapun. Bahwa ‘Mahkota Bahasa’ bukanlah tentang siapa yang paling fasih, tapi siapa yang paling berani berekspresi. Kesempurnaan itu dingin dan berjarak, sementara ketidaksempurnaan, dengan segala ‘banyu’ dan salah ucapnya, adalah apa yang membuat kita manusiawi, hangat, dan dekat. Dan di samping itu, dari kesalahan, kita tahu mana yang harus di koreksi dan mana yang benar, karena luasnya ilmu lebih luas dari bentangan lautan di muka bumi ini, dan kita hanya bisa mengambil setetes dari airnya saja”
Dia menutup buku hariannya.Di sampingnya, Rara sudah mendengkur halus, piala Aktris Terbaik dipeluknya seperti guling.
Nadia tersenyum. Dia turun dari kasur, merapikan sepatu di rak. Dia mengambil sepatu kets Rara yang dekil dan penuh cat itu, lalu menaruhnya sejajar rapi tepat di samping sepatu pantofelnya yang mengkilap. Dua pasang sepatu yang berbeda nasib, berbeda bentuk, tapi malam ini, mereka berdua tahu bahwa mereka melangkah di jalan yang sama. Dan langkah itu terasa jauh lebih ringan.

